Catatan Harianku Sebagai Seorang Guru
Kuingin menyampaikan catatanku selama
duapuluh tiga tahun menjadi seorang guru. Rutinitasku selalu bangun pagi, menyiapkan sarapan pagi
dan berangkat ke sekolah, dengan sepeda motor menempuh jarak kurang lebih empat kilometer. Menyaksikan
keindahan Gunung Agung dipagi hari, pemandangan sawah dan kebun nan hijau,
menyegarkan mataku. Tiba di sekolah melaksanakan absensi elektronik, kemudian
bersiap mengajar di kelas. Sebagai guru IPA tentunya saya lebih banyak berada
di laboratorium menyiapkan praktikum dan melaksanakan tugas sebagai Kepala Lab Sekolah.
Biasanya di depan sekolah selalu ramai, siswa yang datang bergerombol, ada juga yang diantar orang tuanya. Demikian juga guru dan pegawai yang berlomba mengejar absensi elektronik. Suasana halaman sekolah setiap pagi selalu ada beragam dengan aktivitas... Diawali siswa bersalaman dengan guru dan kepala Sekolah di pintu gerbang, lanjut dengan kegiatan pagi membersihkan sekolah, upacara bendera, belajar di kelas, di halaman sekolah, laboratorium komputer, dan ada juga yang terburu-buru ke kantin untuk sarapan pagi.
Tiada seorang guru
pun yang pernah menduga, ketika Mas Menteri Pendidikan, Nadiem makarim, memutuskan
mulai tanggal 17 maret 2020 pembelajaran konvensional kita yang biasanya di
sekolah akan berubah menjadi pembelajaran online dari rumah, menjadi Pembelajaran
Jarak Jauh (PJJ).
Situasi
pandemi Covid-19 yang awalnya merebak mulai bulan Agustus 2019 di Wuhan China,
berdampak juga pada hampir semua aktivitas kehidupan keseharian, kita yang
biasanya dekat menjadi jauh, dan wajib menjaga jarak, mengikuti protokol
kesehatan, dengan menggunakan masker dan cuci tangan.
Semua
aktivitas di sekolah menjadi terhenti dan sepi...Sekolah kosong, tiada satupun aktivitas siswa di halaman sekolah. Entah kapan akan berakhir
dan bisa normal kembali seperti sebelumnya. Beberapa kegiatan belajar mengajar terakhir
di sekolah menjadi monumen kebersamaan dan keceriaan yang begitu berarti untuk
dikenang.
Biasanya
setiap awal pembelajaran di kelas, baki
ponsel di meja guru kuminta diisi, agar siswa konsentrasi dulu dengan apersepsi
awal materi pembelajaran. Selalu kutegur siswa yang menggunakan ponsel saat jam
pelajaran, kecuali bila siswa diminta mencari sumber referensi di internet. Tetapi
kini dengan pembelajaran jarak jauh masa Pandemi Covoid-19 menjadi begitu
bertolak belakang, hampir semua guru mewajibkan siswa menggunakan ponsel sebagai alat bantu dalam
pembelajaran dari rumah.
Bilaman kondisi yang sangat terpaksa, siswa
tanpa ponsel di rumahnya, barulah akan memlihi pembelajaran secara luring, belajar
luar jaringan. Dengan menggunakan buku referensi yang ada, dan tugas dalam
bentuk print out. Hampir semua kelas siswa mampu secara daring, hanya
satu dua atau bahkan sama sekali tidak ada yang memilih belajar luring.
Guru pun mulai berbenah diri, mengubah apa yang biasanya dilaksanakan secara langsung di depan kelas, buku paket, lembar kerja siswa, praktek dan mengamati bersama, kini harus mengubahnya dalam model online dalam pembelakaran jarak jauh atau PJJ. Jika selama ini tidak terkendala dengan akses ponsel dan laptop, tetapi dalam PJJ juga harus menyiapkan pembelajaran yang cocok untuk dikerjakan siswa secara mandiri di rumah. Semangatku tumbuh dengan mengikuti berbagai workshop, webinar, untuk mengubah kemampuan profesi guru PJJ dalam berbagai aplikasi pembelajaran.
Kini
tugasku berubah, tidak lagi berangkat ke sekolah dengan sepeda motor, tapi
berada di rumah saja, dengan bekerja dari rumah, Work from Home (WFH). Setiap
pagi tugas saya sebagai guru adalah menyapa siswa di group aplikasi Whatsapp, membagikan link absensi,
melaksanakan diskusi, dan membagikan tugas. Menggunakan google classroom,
google form, untuk melancarkan proses pembelajaran.
Selamat
pagi anak-anak semua, semoga selalu sehat dan
semangat belajar IPA di rumah. Om Suastiastu.....Ingat absensi dengan link
absensi di atas. Silakan baca buku referensi tentang Struktur dan Fungsi
Tumbuhan. Gunakan buku IPA sebagai referensi atau internet. Ibu beri waktu 15
menit sebelum diskusi. Beberapa chat di group saya tampilkan di bawah ini.
Setelah
selesai sesi diskusi, dilanjutkan dengan memberi penilaian aktivitas dan pengetahuan siswa
berdasarkan jawaban yang diberikan, makin cepat merespon makin baik nilainya. Makin tepat pemahaman konsep yang diberikan, maka makin baik juga nilainya. Banyak siswa
yang menjawab dengan mengcopy jawaban teman di atasnya. Tentu hal seperti ini
bisa dengan mudah diketahui, karena itu saya selalu memberi penegasan apa tujuan diskusi tersebut. Tapi
jika siswa menjawab dengan mengcopy materi di google, juga diberi tetap nilai
aktivitas yang baik.
Memberi
penilaian setiap kehadiran secara daring, memberi nilai saat menjawab, menjadi
bagian laporan rutin setiap akhir pembelajaran. Namun ada satu hal yang
merupakan kendala dalam pembelajaran daring, kehadiran siswa, yang seringkali
terlambat, atau bahkan tidak hadir sama sekali.
Kehadiran
dalam pembelajaran daring kuberi skor berbeda untuk setiap kode kehadirannya,
hadir, aktif, bagus, jika tidak hadir alpa (a), ijin (i), dan sakit (s),
sedangkan jika masalah akses kuota habis (k) dan ponsel nya rusak (h). Skor
setiap kelas adalah nilai aktivitas yang selalu dilaporkan setiap akhir
pembelajaran.
Adakah
semua ini nyaman dan lancar ? Oww, tentu tidak... ketika waktu mengajar juga
kadang menjadi bersamaan dengan beberapa aktivitas rumah.... ketika siswa yang
sudah online tapi tidak peduli dengan diskusi atau tugas yang sudah
dibagikan... ketika guru menunggu kelengkapan absensi siswa hingga sudah
waktunya menyetor laporan pembelajaran... Aku merasa kesabaran guru sedang
diuji, sendiri, tanpa bisa menata langsung bagaimana disiplin semestinya
diaplikasikan secara daring.... membentuk sikap dari jarak yang jauh... sejauh
mana keberhasilannya ?
Ketika
ada keluhan beberapa siswa masih menggunakan satu ponsel bersama kakaknya, atau
ketika ada yang mengatakan tidak ada uang beli paket pulsa internet, ketika ada
orang tua yang mengatakan sudah menghentikan segala kegiatannya untuk membantu
anaknya belajar secara daring, sungguh hatiku tersentuh... Apakah kendala
beberapa anak tersebut adalah ketidakberhasilan dalam pembelajaran jarak jauh ?
Tentu tidak.
Kucoba
untuk menjadi siswa, dengan menghadapi ponsel enam jam sehari dari pagi hingga
siang.... Ternyata rasa bosan dan jenuh sangat mudah menghinggapi. Mengapa
belajar jarak jauh harus juga secara online saja ? Bukankah daring hanya
media komunikasi, tetapi anak-anak bisa tetap belajar seperti biasa. Menggunakan
buku paket, mengadakan pengamatan, praktikum sederhana, yang alurnya seirama
dengan kegiatan di rumah.
Proses pembelajaran juga harus tetap menanamkan
keterampilan abad 21 yaitu 4C, Creativity, Critical Thinking, and
Collaboration. Bagaimana kita
berupaya menanamkan keterampilan ini dimasa Pandemi. Akhirnya
mulai kuterapkan belajar konsep berbasis lingkungan. Siswa mengadakan pengamatan
dengan memanfaatkan alat-alat sederhana yang ada di rumah. Salah satu upaya untuk menemukan konsep secara alami. Bukankah
alam ini adalah laboratorium yang terbuka lebar setiap saat, dan menjadi guru
yang sejati....
Gambar di atas
adalah beberapa contoh aktivitas praktikum yang dilaksanakan oleh siswa di
rumah secara mandiri, yang kemudian dilaporkan secara tertulis. Apa yang saya lakukan
tentunya tidak bertentangan aturan pembelajaran dari rumah dilaksanakan serempak berdasarkan Surat Edaran
Mendikbud tentang pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa darurat
Penyebaran Covid-19, tanggal 24 Maret 2020.
Adapun kutipan point yang ke-2 tentang Proses Belajar dari Rumah dilaksanakan
dengan ketentuan sebagai berikut :
- Belajar dari rumah atau BDR diharapkan dapat memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum.
- Belajar dari rumah difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi covid-19, menjaga kesehatan diri dan lingkungannya,
- Aktivitas dan tugas pembelajaran Belajar dari Rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkann kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah;
- Bukti dan produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru, tanpa harus diberikan skor/nilai kuantitatif.
Menyadari
diri sebagai Guru, sebagai faktor utama dalam pelaksanaan
Pembelajaran Jarak Jauh saya mulai mempersiapkan diri dari segi teknik yang paling sederhana dimana
siswa paling banyak mampu untuk melaksanakannya. Bagiku kesuksesan seorang Guru bukan karena
canggihnya aplikasi yang dipergunakan, tetapi kualitas dari interaksi antara
Guru dan Siswa, sehingga siswa mampu melaksanakan pembelajaran secara mandiri di rumah.
Selalu
menjadi bahan pemikiranku, bagaimana pembelajaran itu menjadi menarik, tidak
membosankan? Kuikuti beberapa webinar yang meningkatkan kemampuan teknologi
internet dalam pembelajaran daring....Hampir lima belas sertifikat kuperoleh,
dan sungguh tidak sia-sia, jika hampir semua metode pembelajaran daring bisa
kugunakan sebagai tambahan pembelajaran dan penilaian hasil beajar siswa berupa
kuis yang diselingi juga dengan sedikit game. Tidak hanya Whatsapp,
google form, google classroom, juga quizziz, kahoot, quipper, google
meet, zoom, dan moddle, bisa dipergunakan untuk menambah referensi dan
teknik pembelajaran. Semua aplikasi itu tentunya meiliki keunggulan dan
kelemahan tersendiri. Bagiku apapun aplikasi yang dipergunakan, mudah diakses, melancarkan
komunikasi, cepat dalam penyampaian informasi siswa, mudah menguasai kompetensi
dasar, sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Ketika
sekolah mulai menggunakan moddle Melajah.id kumerasa lebih banyak
memberi, karena dengan moddle ini guru bisa mengatur absensi jika siswa sudah
membaca materi pelajaran. Demikian juga jika akan membuat tugas, syarat utama
adalah sudah membaca materi, dan lanjut mengerjakan tugas sesuai dengan kompetensi
dasar yang harus dikuasai. Moddle otomatis mengontrol aktivitas siswa
dan mengatur batas waktu dalam mengerjakan tugas atau ulangan.
Pembelajaran jarak
jauh tentunya tidak mungkin untuk menuntaskan pelaksanaan Kurikulum 2013.
Penyederhanaan kurikulum dan waktu pembelajaran daring menjadi bagian dari
mengatasi berbagai problem siswa yang belajar secara mandiri. Perencanaan yang
dibuat guru pun sudah berubah menjadai rencana program pembelajaran yang hanya
satu lembar saja.
Kuikuti semua yang terbaik untuk dilakukan sebagai guru kepada siswa yang sedang belajar di rumah, mulai dari menyiapkan RPP Daring, selalu tepat waktu dalam memulai pembelajaran, tidak lupa dengan mengucapkan salam dan doa.
- Materi pelajaran berdasarkan buku referensi yang sudah dipegang siswa, ditambah dengan materi yang diunggah di media pembelajaran online seperti Google Clasroom, WhatsApp, Moddle, Zoom, Webex, atau jika sedang mengadakan evaluasi soal-soalnya sudah disiapkan, bisa saja dengan menggunakan Google Form, Quizizz, Kahoot, Quipper, Ruang Guru, Rumah Belajar, atau yang lainnya.
- Satu minggu hanya memberikan satu tugas saja, atau satu ulangan saja, saya lebih banyak berinteraksi dalam bentuk diskusi dan tanya jawab. Jika dikusi dalam group Whatsapp, selalu mengadakan pengecakan keaktifan siswa setiap 15 menit. Jika memberikan tugas, tidak mengharuskan selesai pas hari tersebut, tetapi memberi penghargaan kepada siswa yang mampu menyelesaikan dengan cepat dan tepat waktu;
- Menghubungi siswa atau orang tuanya jika siswa tidak aktif pada waktu pembelajaran Daring, dengan mengingatkannya secara chat pribadi atau chat kepada orang tuanya. Bilamana tidak dibalas, sebaiknya mengadakan komunikasi langsung lewat pembicaraan telepon;
- Menutup pelajaran dengan doa penutup, merekap absensi pembelajaran hari ini, dan memberikan materi apa yang harusnya dipelajari untuk pertemuan berikutnya. Memberikan absensi akhir pelajaran jika ada, karena banyak juga yang hanya absensi awal pembelajaran saja. Memeriksa tugas dan mengembalikan hasilnya kepada siswa, jangan lupa tetap memberikan remidial jika nilai belum memenuhi KKM.
Hanya ada satu dua orang siswa meminta PJJ Luring (Luar Jaringan) yaitu pembelajaran secara offline dimana kondisi siswa tidak memungkinkan untuk melaksanakan secara daring baik dari segi aspek teknologi, maupun kondisi alam yang jauh, tanpa akses internet, maka ada beberapa tips yang mungkin bisa saya lakukan yaitu :
- Guru selalu siap dengan materi tambahan ataupun tugas secara hardcopy yang akan diberikan kepada siswa dalam jadwal waktu yang sudah ditetapkan, misalnya sekali seminggu;
- Siswa lebih banyak diminta untk belajar melalui buku paket sebagai referensi, melihat tayangan TV, atau mencatat kejadian alam dan lingkungan sekitarnya;
- Siswa diberi waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas nya, karena pastilah tidak satu pelajaran yang dikerjakan secara Luring;
- Mengadakan komunikasi kepada orang tua atau wali siswa, sebagai orang terdekat yang memantau pembelajaran siswa;
- Mengarahkan siswa agar tetap mengadakan interaksi dengan teman yang terdekat bilamana ada masalah dalam mengerjakan tugas;
- Mengadakan kunjungan ke rumah siswa bilamana siswa tidak bisa menyelesaikan tugasnya dalam kurun waktu yang telah diberikan.
Salah seorang siswa yang sangat kurang kehadirannya, kuminta siswa datang ke sekolah, untuk dicari akar permasalahannya, diberikan pengarahan, semangat, dan motivasi belajar. Tetapi jika belum juga ada perubahan, bersama dengan guru BK mengadakan kunjungan rumah, bertemu dengan orang tua siswa, untuk senantiasa mendampingi anaknya dalam belajar di rumah. Hanya dengan kerjasama yang baik maka permasalahan belajar anak di rumah dapat diselesaikan dengan baik.
Demikianlah segala upaya yang telah kulakukan sebagai Guru selama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Banyak juga hikmah positip yang kurasakan sebagai seorang guru, dari seorang guru yang konvensional, biasa bertatap muka, kini menjadi seorang guru yang selalu online, bahkan diluar jam pelajaran daring pun tetap bisa memberikan arahan kepada semua siswa. Konsep merdeka belajar, belajar dimana saja dan kapan saja, memang dapat dibuktikan secara nyata hampir oleh semua siswa dan guru di Indonesia. Belajar dari rumah menempatkan bagaimana pentingnya orang tua dalam mendidik, yang juga berperan sebagai guru pembimbing di rumah, tidaklah bisa diabaikan seperti selama ini, yang penuh diserahkan kepada guru.
Menjadi guru PJJ yang sukses, hanya dapat dilakukan dengan kesungguhan hati, keihklasan memberi waktu, dan kesabaran dalam membina siswa. Kuingin sungguh-sungguh memberikan pengetahuan dan melatih kedisiplinan siswa, karena generasi muda kita adalah harapan bangsa. Semoga Pandemi Covid-19 cepat berlalu, dan pembelajaran normal di sekolah bisa kembali lagi.
_______________________________________
REFERENSI
Kompas.com, Kilas Balik pembelajaran jarak jauh Akibat Pandemi,
https://nasional.kompas.com/read/2020/09/03/10063201,
03 September 2020.
Kompas.com, Pendidikan Daring Covid-19, https://www.kompas.com/edu/read/2020/08/12/112834471,
12 Agustus 2020.
Menteri Pendidikan
dan kebudayaan, Kemdikbud Terbitkan Pedoman Pembelajaran dari Rumah. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/05.
29 Mei 2020.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Surat Edaran No. 15 Tahun 2020, Tentang
Pedoman Penyelanggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Corona
Virus Virus D/Seas (Covid-19). 18 Mei 2020.
Wikipedia Indonesia, Nadiem Makarim, https://id.wikipedia.org/wiki/Nadiem_Makarim,
26 Oktober 2020.










